Di tengah perubahan zaman yang serba cepat dan digitalisasi yang masif, sebuah fenomena menarik muncul: generasi Z lebih tertarik untuk menjalankan bisnis sendiri dibandingkan menjadi pegawai di perusahaan. Lalu, apa alasan di balik perubahan pola pikir ini? Apakah ini sekadar tren sementara, atau memang menjadi arah baru dalam dunia kerja?
1. Mencari Kebebasan dan Fleksibilitas
Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, tumbuh di era internet dan media sosial. Mereka terbiasa dengan kecepatan, fleksibilitas, dan otonomi. Bekerja 9 to 5 di kantor bukanlah gaya hidup ideal bagi mereka. Bisnis memberikan fleksibilitas waktu dan tempat kerja yang lebih sesuai dengan gaya hidup dinamis mereka.
2. Akses Mudah untuk Memulai Usaha
Di masa lalu, memulai bisnis membutuhkan modal besar dan jaringan kuat. Kini, dengan adanya e-commerce, marketplace, dan media sosial, siapa pun bisa mulai berjualan dari rumah hanya bermodal smartphone. Platform seperti TikTok, Instagram, dan Shopee telah membuka peluang luas bagi siapa saja untuk mencoba peruntungan sebagai entrepreneur.
3. Inspirasi dari Tokoh Muda Sukses
Kisah sukses anak muda yang berhasil membangun bisnis viral sering menjadi bahan inspirasi bagi Gen Z. Banyak dari mereka yang melihat influencer atau content creator yang sukses dan berpikir bahwa jalur tersebut lebih menjanjikan, menyenangkan, dan ‘bebas tekanan’ dibanding bekerja kantoran.
4. Ketidakpastian Dunia Kerja Formal
Banyak dari Gen Z yang menyadari bahwa bekerja di perusahaan tidak lagi menjamin keamanan finansial. PHK massal, burnout, hingga konflik internal perusahaan membuat banyak orang muda berpikir dua kali untuk menggantungkan hidup sepenuhnya pada pekerjaan formal.
5. Ingin Membangun “Legacy” Sejak Dini
Generasi ini juga cenderung punya ambisi kuat untuk membangun sesuatu yang bisa mereka banggakan sendiri. Menjadi pemilik bisnis kecil yang berkembang seringkali dianggap lebih bermakna dibandingkan menjadi bagian kecil dari sebuah perusahaan besar.
6. Tren Personal Branding yang Kuat
Gen Z memahami bahwa branding pribadi adalah aset. Dengan menjadi entrepreneur, mereka punya kontrol penuh terhadap citra diri mereka, produk yang dijual, hingga nilai-nilai yang mereka bawa. Ini berbeda ketika bekerja di perusahaan yang brand-nya sudah ditentukan oleh orang lain.
Tantangan yang Tetap Harus Dihadapi
Meskipun terdengar ideal, menjadi pebisnis tentu tidak semudah yang dibayangkan. Banyak bisnis yang gagal di tahun pertama, belum lagi tantangan seperti manajemen keuangan, pemasaran, dan pengelolaan tim. Maka dari itu, kesiapan mental dan pengetahuan dasar bisnis sangat penting sebelum memutuskan untuk terjun langsung.
Kesimpulan
Generasi Z tidak lagi memandang bekerja sebagai karyawan sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Dengan berbagai peluang yang tersedia saat ini, mereka lebih berani untuk mengambil risiko membangun bisnis sendiri. Namun, mentalitas kerja keras, kegigihan, dan keinginan terus belajar tetap jadi kunci utama untuk meraih keberhasilan — baik sebagai pebisnis maupun karyawan.
