Dalam penelitian mahasiswa, informed consent bukan sekadar formulir yang ditandatangani sebelum kuesioner, wawancara, atau prosedur penelitian dimulai. Informed consent adalah proses komunikasi antara peneliti dan calon partisipan agar seseorang dapat memahami penelitian, mempertimbangkan keikutsertaannya, lalu mengambil keputusan secara sukarela.
Proses ini penting karena melindungi otonomi, hak, keselamatan, dan kesejahteraan partisipan. Mahasiswa sebagai peneliti perlu memastikan bahwa calon partisipan mengetahui apa yang akan dilakukan, kemungkinan risiko atau ketidaknyamanan, serta hak mereka selama penelitian. Persyaratan teknisnya dapat berbeda menurut institusi, bidang ilmu, jenis penelitian, dan aturan setempat. Karena itu, pedoman kampus dan komite etik perlu diperiksa sebelum pengumpulan data.
Apa yang dimaksud dengan informed consent?
Informed consent berarti persetujuan yang diberikan setelah calon partisipan memperoleh informasi yang relevan, memahami penjelasan tersebut, dan memutuskan untuk berpartisipasi tanpa paksaan atau pengaruh yang tidak semestinya. Ketiga unsur ini saling berkaitan. Informasi yang lengkap tidak cukup jika disampaikan dengan bahasa yang sulit dipahami. Sebaliknya, tanda tangan tidak dapat dianggap memadai jika partisipan tidak diberi kesempatan bertanya atau belum memahami kegiatan penelitian.
Dengan demikian, informed consent sebaiknya dipandang sebagai proses yang berlangsung sebelum partisipan terlibat dalam penelitian. Formulir dapat menjadi salah satu alat dokumentasi, tetapi bukan pengganti dialog dan penjelasan yang layak.
Informasi yang perlu dijelaskan kepada partisipan
Isi penjelasan perlu disesuaikan dengan karakter penelitian dan kemampuan calon partisipan dalam memahami informasi. Secara umum, mahasiswa perlu menjelaskan beberapa hal berikut:
- Status kegiatan: sampaikan dengan jelas bahwa calon partisipan sedang diminta mengikuti penelitian.
- Tujuan penelitian: jelaskan hal yang ingin dipelajari tanpa menggunakan istilah teknis yang tidak perlu.
- Durasi dan rangkaian kegiatan: terangkan berapa lama keterlibatan diperlukan serta tahapan yang akan dijalani.
- Prosedur penelitian: jelaskan apakah partisipan akan mengisi kuesioner, mengikuti wawancara, memberikan data tertentu, atau menjalani prosedur lain yang relevan.
- Risiko dan ketidaknyamanan: uraikan kemungkinan dampak yang mungkin dirasakan, termasuk ketidaknyamanan yang berkaitan dengan pertanyaan atau kegiatan penelitian.
- Manfaat: jelaskan manfaat yang diharapkan secara wajar. Jangan memberikan janji atau kepastian yang tidak dapat dipastikan.
- Kerahasiaan data: terangkan cara perlindungan informasi pribadi dan data penelitian sesuai prosedur yang berlaku.
- Kontak peneliti: berikan cara yang dapat digunakan partisipan untuk mengajukan pertanyaan tentang penelitian.
- Hak partisipan: jelaskan bahwa mereka dapat menolak atau mengundurkan diri tanpa penalti.
Penjelasan tersebut harus menggunakan bahasa, istilah, dan cara penyampaian yang dapat dipahami calon partisipan. Jika informasi penelitian kompleks, mahasiswa perlu menyederhanakan kalimat, menjelaskan istilah penting, dan memberi waktu yang cukup untuk membaca atau mendengarkan penjelasan.
Prinsip utama informed consent
1. Informasi harus memadai dan mudah dipahami
Calon partisipan perlu menerima informasi yang relevan untuk mengambil keputusan. Hindari mengandalkan istilah akademik tanpa penjelasan. Bahasa yang sederhana bukan berarti mengurangi ketepatan ilmiah; justru membantu partisipan memahami apa yang akan mereka hadapi.
2. Keputusan harus diberikan secara sukarela
Partisipasi tidak boleh muncul karena tekanan, ancaman, atau pengaruh yang tidak semestinya. Mahasiswa perlu berhati-hati apabila calon partisipan memiliki hubungan tertentu dengan peneliti, misalnya hubungan akademik atau posisi yang membuat seseorang merasa sulit menolak. Sampaikan bahwa keputusan untuk tidak ikut tidak akan menimbulkan penalti.
3. Partisipan perlu diberi kesempatan bertanya
Setelah penjelasan diberikan, beri ruang bagi calon partisipan untuk mengajukan pertanyaan. Jangan memperlakukan tanda tangan sebagai bukti tunggal bahwa informasi telah dipahami. Peneliti perlu memastikan bahwa pertanyaan dijawab secara jelas dan tidak tergesa-gesa.
4. Persetujuan diperoleh sebelum keterlibatan dimulai
Persetujuan perlu diperoleh sebelum calon partisipan mengisi instrumen, mengikuti wawancara, atau menjalani prosedur penelitian. Jika terdapat perubahan penting pada prosedur, risiko, atau informasi penelitian, perubahan tersebut dapat memerlukan peninjauan dan persetujuan etik sebelum diterapkan.
Langkah praktis menyiapkan informed consent
- Periksa pedoman yang berlaku. Tanyakan prosedur kepada dosen pembimbing, institusi, dan komite etik yang berwenang. Persyaratan tidak selalu sama untuk setiap penelitian.
- Petakan informasi penelitian. Catat tujuan, durasi, prosedur, risiko, ketidaknyamanan, manfaat, perlindungan data, kontak peneliti, dan hak partisipan.
- Susun penjelasan dengan bahasa sederhana. Gunakan kalimat yang langsung dan hindari istilah teknis yang tidak dibutuhkan. Sesuaikan cara komunikasi dengan karakter calon partisipan.
- Jelaskan risiko secara jujur. Jangan menyembunyikan informasi penting untuk mempercepat perekrutan. Pada saat yang sama, sampaikan risiko secara proporsional dan mudah dipahami.
- Sediakan waktu untuk mempertimbangkan. Calon partisipan perlu memiliki kesempatan membaca, mendengar, bertanya, dan memutuskan tanpa tekanan.
- Dokumentasikan persetujuan sesuai ketentuan. Gunakan bentuk dokumentasi yang disetujui institusi atau komite etik. Ingat bahwa dokumentasi mendukung proses, bukan menggantikannya.
- Simpan catatan secara aman. Perlakukan dokumen persetujuan dan data penelitian sesuai prosedur perlindungan kerahasiaan yang berlaku.
Perhatian untuk kelompok rentan dan peserta di bawah umur
Penelitian yang melibatkan anak atau orang dengan kapasitas pengambilan keputusan terbatas membutuhkan perhatian tambahan. Dalam kondisi tertentu, dapat diperlukan izin dari orang tua atau wali yang sah serta persetujuan peserta sesuai pedoman yang berlaku. Mahasiswa tidak boleh mengasumsikan bahwa satu format persetujuan cocok untuk semua kelompok.
Penjelasan juga perlu disesuaikan dengan kemampuan peserta untuk memahami informasi. Jika terdapat keraguan tentang kapasitas pengambilan keputusan, bentuk persetujuan, atau pihak yang berwenang memberikan izin, konsultasikan rencana penelitian kepada pembimbing, institusi, atau komite etik sebelum perekrutan dilakukan.
Kesalahan yang perlu dihindari
- Menganggap tanda tangan sebagai satu-satunya bukti informed consent.
- Menggunakan bahasa terlalu teknis atau penjelasan yang sulit dipahami.
- Tidak menjelaskan risiko, ketidaknyamanan, atau durasi keterlibatan.
- Memberi kesan bahwa calon partisipan wajib ikut atau akan dirugikan jika menolak.
- Mengabaikan hak untuk berhenti berpartisipasi tanpa penalti.
- Mengumpulkan data sebelum persetujuan diperoleh.
- Menggunakan prosedur yang berubah tanpa memeriksa kebutuhan peninjauan etik.
Checklist sebelum mengumpulkan data
Sebelum memulai penelitian, pastikan calon partisipan telah mengetahui bahwa kegiatan tersebut merupakan penelitian, memahami tujuan dan prosedurnya, serta memperoleh penjelasan mengenai durasi, risiko, ketidaknyamanan, manfaat, kerahasiaan data, dan kontak peneliti. Pastikan pula mereka tahu bahwa keikutsertaan bersifat sukarela dan dapat dihentikan tanpa penalti.
Terakhir, periksa kembali apakah rancangan informed consent telah mengikuti pedoman kampus, komite etik, dan aturan lokal. Dengan menempatkan komunikasi, pemahaman, dan kebebasan memilih sebagai inti proses, mahasiswa dapat menjalankan penelitian secara lebih bertanggung jawab sekaligus menghormati hak setiap partisipan.
