Menulis laporan penelitian mahasiswa tidak cukup hanya dengan menyusun bab sesuai format kampus. Laporan juga perlu menjelaskan proses penelitian secara lengkap, jelas, dan dapat dievaluasi. Salah satu cara untuk memeriksa kelengkapan tersebut adalah menggunakan pedoman pelaporan atau reporting guideline yang sesuai dengan desain studi.
Pedoman pelaporan membantu mahasiswa mengetahui informasi apa saja yang perlu dijelaskan dalam laporan. Dengan begitu, pembaca, dosen pembimbing, penguji, editor, atau peneliti lain dapat memahami bagaimana penelitian dilakukan, apa hasilnya, dan bagaimana kesimpulannya dibentuk. Namun, checklist bukan pengganti penilaian metodologis. Desain, analisis, dan interpretasi penelitian tetap harus ditinjau secara kritis.
Mengapa checklist pelaporan penting?
Penelitian yang baik dapat sulit dinilai jika laporan tidak menjelaskan metode dan hasil secara memadai. Misalnya, pembaca mungkin tidak mengetahui cara peserta dipilih, bagaimana variabel diukur, atau alasan suatu analisis digunakan. Checklist pelaporan membantu penulis mengidentifikasi bagian yang belum dijelaskan sebelum laporan dikumpulkan atau dikirim ke jurnal.
Dalam laporan penelitian original, struktur yang umum digunakan adalah IMRAD, yaitu Introduction, Methods, Results, dan Discussion. Dalam bahasa Indonesia, struktur ini dapat dipahami sebagai Pendahuluan, Metode, Hasil, dan Diskusi atau Pembahasan. Struktur tersebut memberi kerangka umum, sedangkan pedoman khusus membantu menyesuaikan isi dengan karakter desain studi.
Langkah pertama: identifikasi desain penelitian
Sebelum memilih checklist, tentukan terlebih dahulu jenis penelitian yang dilakukan. Jangan memilih pedoman hanya berdasarkan topik. Dua penelitian yang sama-sama membahas kesehatan, pendidikan, atau sosial dapat memerlukan pedoman berbeda karena desain dan cara pengumpulan datanya tidak sama.
Ajukan beberapa pertanyaan berikut:
- Apakah penelitian memberikan intervensi kepada peserta secara acak?
- Apakah penelitian mengamati peserta tanpa memberikan intervensi?
- Apakah penelitian menggabungkan hasil dari penelitian-penelitian terdahulu?
- Apakah tujuan penelitian adalah menilai akurasi suatu tes atau metode diagnostik?
- Apakah data utama berasal dari wawancara, observasi, atau analisis kualitatif?
- Apakah dokumen yang sedang ditulis merupakan protokol, bukan laporan hasil penelitian?
Jawaban atas pertanyaan tersebut membantu mempersempit pilihan checklist. Jika desain penelitian belum jelas, diskusikan definisi dan karakteristiknya dengan dosen pembimbing sebelum mulai mengisi pedoman.
Memilih checklist berdasarkan desain studi
CONSORT untuk uji acak
CONSORT digunakan sebagai rujukan pelaporan untuk uji acak. Pedoman ini relevan ketika peserta dialokasikan ke kelompok secara acak dan penelitian membandingkan intervensi atau perlakuan. Checklist membantu penulis menjelaskan aspek penting seperti rancangan penelitian, pembagian kelompok, peserta, intervensi, hasil, dan alur peserta sesuai kebutuhan pedoman yang digunakan.
Mahasiswa yang melakukan penelitian eksperimental perlu memastikan bahwa istilah “uji acak” benar-benar sesuai dengan prosedur penelitian. Jangan menggunakan checklist ini hanya karena penelitian memiliki dua kelompok, apabila pembagian kelompok tidak dilakukan secara acak.
STROBE untuk penelitian observasional
STROBE ditujukan untuk penelitian observasional. Contohnya adalah studi potong lintang, kohort, dan kasus-kontrol. Pada jenis penelitian ini, peneliti mengamati paparan, karakteristik, atau kejadian tanpa memberikan intervensi yang ditentukan oleh peneliti.
Checklist STROBE dapat membantu mahasiswa menjelaskan desain studi, setting penelitian, peserta, variabel, sumber data, metode pengukuran, potensi bias, serta cara analisis. Pilih versi yang sesuai dengan bentuk studi observasional yang dilakukan dan gunakan pedoman tersebut bersama arahan program studi.
PRISMA untuk tinjauan sistematis dan meta-analisis
PRISMA digunakan untuk membantu pelaporan tinjauan sistematis dan meta-analisis. Tinjauan sistematis memerlukan proses yang transparan dalam pencarian, penyaringan, pemilihan, dan sintesis literatur. Karena itu, laporan tidak cukup hanya mencantumkan daftar artikel yang dibaca.
PRISMA 2020 mencakup checklist 27 item, checklist untuk abstrak, dan diagram alur. Elemen-elemen ini membantu penulis menunjukkan bagaimana rekaman atau artikel ditemukan, diseleksi, dikeluarkan, dan akhirnya dimasukkan dalam tinjauan. PRISMA juga memiliki ekstensi untuk kebutuhan tertentu, termasuk scoping review dan strategi pencarian literatur.
Gunakan ekstensi hanya jika sesuai dengan pertanyaan dan desain tinjauan. Jangan menganggap semua jenis tinjauan harus memakai dokumen PRISMA yang sama.
STARD untuk studi akurasi diagnostik
STARD digunakan untuk studi akurasi diagnostik. Pedoman ini sesuai ketika penelitian menilai kemampuan suatu tes, pemeriksaan, atau metode untuk membedakan kondisi tertentu berdasarkan pembanding yang relevan.
Checklist membantu penulis menjelaskan peserta, tes indeks, standar pembanding, prosedur pemeriksaan, serta hasil penelitian secara transparan. Mahasiswa perlu memastikan bahwa penelitian memang berfokus pada akurasi diagnostik, bukan sekadar menggunakan alat ukur dalam penelitian deskriptif atau observasional biasa.
Jika desain penelitian tidak tercakup dalam contoh utama
CONSORT, STROBE, PRISMA, dan STARD bukan satu-satunya pedoman pelaporan. EQUATOR Network menyediakan perpustakaan pedoman yang dapat ditelusuri berdasarkan jenis studi dan bidang penelitian. Mahasiswa dapat menggunakannya untuk mencari pedoman yang lebih sesuai, termasuk untuk penelitian kualitatif, protokol, studi hewan, evaluasi ekonomi, dan penelitian eksperimental.
Pencarian sebaiknya dimulai dari desain studi, bukan dari kata kunci topik yang terlalu umum. Setelah menemukan beberapa kandidat, baca tujuan dan ruang lingkup masing-masing pedoman. Pilih pedoman yang paling dekat dengan metode yang benar-benar digunakan, lalu konfirmasikan pilihan tersebut kepada pembimbing.
Cara menggunakan checklist sejak awal penulisan
- Identifikasi desain studi. Tuliskan secara spesifik apakah penelitian termasuk uji acak, observasional, tinjauan sistematis, studi akurasi diagnostik, kualitatif, atau kategori lainnya.
- Cari pedoman yang sesuai. Gunakan perpustakaan pedoman yang dapat ditelusuri dan periksa apakah tersedia versi atau ekstensi khusus untuk desain penelitian tersebut.
- Gunakan checklist saat menyusun metode. Jangan menunggu sampai laporan selesai. Checklist dapat membantu memastikan bahwa rencana pengumpulan dan analisis data dijelaskan sejak awal.
- Tandai item yang sudah dan belum terpenuhi. Buat catatan sederhana pada setiap item. Jika suatu bagian belum relevan, tuliskan alasannya untuk didiskusikan dengan pembimbing.
- Jelaskan pengecualian secara transparan. Tidak semua item akan berlaku pada setiap penelitian. Berikan penjelasan yang masuk akal ketika suatu item tidak digunakan atau tidak dapat dilaporkan.
- Lakukan pemeriksaan akhir. Bandingkan laporan dengan checklist setelah bagian hasil dan pembahasan selesai. Pastikan informasi penting tidak hilang saat melakukan penyuntingan.
Checklist bukan pengganti evaluasi metodologis
Checklist berfungsi sebagai alat bantu kelengkapan pelaporan, bukan sertifikat bahwa penelitian sudah benar. Laporan yang mengisi banyak item tetap dapat memiliki masalah pada pemilihan desain, kualitas data, ukuran sampel, analisis, atau interpretasi hasil.
Selain checklist, mahasiswa harus mengikuti pedoman penulisan dari kampus, arahan pembimbing, dan ketentuan jurnal tujuan jika laporan akan dipublikasikan. Apabila terdapat perbedaan format, prioritaskan instruksi yang berlaku dan gunakan checklist sebagai alat pemeriksaan isi.
Pada akhirnya, pedoman pelaporan penelitian mahasiswa paling bermanfaat ketika digunakan sebagai bagian dari proses berpikir metodologis. Mulailah dari desain studi, pilih checklist yang tepat, catat bagian yang belum terpenuhi, dan periksa kembali laporan secara kritis. Dengan cara ini, laporan menjadi lebih lengkap, transparan, dan lebih mudah dinilai tanpa kehilangan penalaran ilmiah penulisnya.
