Philadelphia, 6 Oktober 2026 — University of Pennsylvania Graduate School of Education (Penn GSE) meluncurkan Penn GSE Living Laboratory for Human Agency and Artificial Intelligence, sebuah inisiatif untuk mengembangkan dan menguji penggunaan kecerdasan artifisial (AI) dalam konteks pendidikan nyata.
Inisiatif ini mempertemukan peneliti, pendidik, peserta didik, komunitas, dan mitra teknologi. Tujuannya bukan sekadar memperluas pemakaian AI di sekolah atau perguruan tinggi, melainkan menilai kapan teknologi tersebut benar-benar membantu proses belajar, memperkuat kapasitas pendidik, dan tetap menjaga agensi manusia dalam pengambilan keputusan pendidikan.
Peluncuran Living Laboratory menjadi perkembangan penting dalam diskusi tentang AI pendidikan. Pendekatan yang ditawarkan Penn GSE menempatkan inovasi teknologi sebagai bagian dari proses riset dan praktik pengajaran, bukan sebagai solusi yang manfaatnya dianggap sudah pasti. Setiap pendekatan perlu dikembangkan, diuji, dan dievaluasi melalui pengalaman belajar yang berlangsung secara autentik.
Menguji AI dalam situasi pendidikan nyata
Living Laboratory dirancang sebagai ruang kolaboratif untuk menghubungkan gagasan teknologi dengan kebutuhan pembelajaran yang konkret. Karena pengujian dilakukan dalam lingkungan pendidikan nyata, para pihak yang terlibat dapat mengamati bagaimana AI berinteraksi dengan kurikulum, peran guru, pengalaman siswa, serta keputusan yang dibuat selama proses pembelajaran.
Model ini juga memberi ruang bagi peserta didik dan pendidik untuk berperan sebagai mitra dalam riset. Mereka tidak hanya menjadi pengguna akhir dari alat yang telah dibuat, tetapi ikut membantu mengidentifikasi masalah, merancang pendekatan, dan menilai dampaknya. Pelibatan tersebut penting karena kebutuhan di ruang kelas tidak selalu dapat diperkirakan hanya melalui pengembangan teknologi.
Fokus pada konteks nyata juga membantu membedakan antara kemampuan teknis sebuah sistem dan manfaat pendidikannya. AI dapat menghasilkan keluaran yang tampak meyakinkan, tetapi hal itu belum otomatis menunjukkan bahwa siswa belajar lebih baik atau guru dapat mengajar dengan lebih efektif. Karena itu, pengujian perlu memperhatikan proses dan hasil pembelajaran secara menyeluruh.
Rangkaian proyek lintas jenjang pendidikan
Living Laboratory mencakup sejumlah proyek yang menyoroti persoalan berbeda dalam pendidikan. Salah satunya adalah pengembangan alat AI tanpa layar untuk anak usia dini. Proyek seperti ini menunjukkan bahwa pembahasan AI tidak harus berpusat pada penggunaan perangkat digital secara langsung oleh anak, tetapi juga dapat mempertimbangkan tahap perkembangan, bentuk interaksi, dan kebutuhan belajar pada usia tersebut.
Inisiatif ini juga mencakup pengembangan dukungan AI bagi guru dalam merancang pembelajaran. Teknologi dapat digunakan untuk membantu pendidik mengeksplorasi pilihan desain pembelajaran, selama keputusan akhir tetap berada pada pertimbangan profesional guru. Dengan pendekatan tersebut, AI diposisikan sebagai alat bantu untuk memperluas kapasitas pendidik, bukan sebagai pengganti perencanaan dan penilaian manusia.
Proyek lainnya mengajarkan siswa untuk mengaudit bias dalam sistem AI. Pembelajaran semacam ini membekali peserta didik dengan kemampuan untuk mempertanyakan bagaimana sebuah sistem bekerja, data seperti apa yang mungkin memengaruhinya, dan kelompok mana yang berpotensi dirugikan oleh hasil yang dihasilkan. Literasi AI dengan demikian tidak berhenti pada keterampilan menggunakan alat, tetapi mencakup kemampuan menilai konsekuensi sosial dan akademiknya.
Living Laboratory turut mendukung riset mengenai cara mahasiswa dan pelajar mengevaluasi kredibilitas keluaran AI. Keterampilan ini semakin relevan ketika peserta didik berhadapan dengan jawaban yang terdengar masuk akal, tetapi tetap perlu diperiksa berdasarkan bukti, konteks, dan kualitas penalarannya.
Penn AI Pedagogy Initiative sebagai contoh pengujian
Salah satu bagian dari inisiatif tersebut adalah Penn AI Pedagogy Initiative. Program ini melibatkan dosen, mahasiswa, ilmuwan pembelajaran, dan mitra teknis untuk mengembangkan pendekatan AI yang berangkat dari masalah pembelajaran tertentu.
Prosesnya dimulai dengan mengidentifikasi persoalan yang dihadapi dalam pembelajaran. Setelah itu, tim merancang pendekatan berbantuan AI, mengujinya dalam mata kuliah nyata, dan mengevaluasi pengaruhnya terhadap proses belajar. Urutan ini menempatkan kebutuhan pendidikan sebelum pilihan teknologi.
Pendekatan tersebut juga menegaskan bahwa evaluasi tidak cukup dilakukan dengan melihat apakah sebuah alat dapat digunakan. Peneliti perlu mengamati bagaimana alat itu memengaruhi keterlibatan peserta didik, cara mahasiswa memahami materi, peran dosen, serta kualitas keputusan yang dibuat selama pembelajaran. Hasil pengujian kemudian menjadi dasar untuk memperbaiki pendekatan atau menilai apakah penggunaannya memang layak dilanjutkan.
Agensi manusia tetap menjadi perhatian utama
Istilah human agency dalam nama Living Laboratory mencerminkan perhatian terhadap kemampuan manusia untuk memahami situasi, membuat pertimbangan, dan mengambil keputusan. Dalam pendidikan, hal ini mencakup kewenangan pendidik dalam merancang pengalaman belajar serta kemampuan siswa untuk berpikir, menilai informasi, dan mengembangkan pemahamannya sendiri.
Dengan kerangka tersebut, AI tidak dipandang sebagai pengganti guru atau sebagai jalan pintas untuk menggantikan proses belajar siswa. Teknologi diharapkan membantu manusia bekerja lebih baik, sementara tanggung jawab atas keputusan pendidikan tetap memerlukan pertimbangan manusia.
Kerangka ini juga membuka pembahasan mengenai bias, kesetaraan, privasi, dan akuntabilitas. Sistem AI dapat memengaruhi cara informasi disajikan atau keputusan dibuat. Oleh sebab itu, pengembangan dan pengujiannya perlu memperhatikan kemungkinan dampak yang berbeda terhadap peserta didik dan komunitas yang beragam.
Pelajaran bagi riset AI pendidikan
Bagi mahasiswa dan peneliti, peluncuran Living Laboratory menawarkan beberapa pelajaran metodologis. Pertama, inovasi AI perlu diuji di lingkungan autentik agar peneliti dapat memahami hubungan antara teknologi dan praktik pendidikan yang sesungguhnya. Kedua, pengguna—termasuk guru dan peserta didik—perlu dilibatkan sebagai mitra riset, bukan hanya sebagai penerima teknologi.
Ketiga, dampak terhadap pengajaran dan pembelajaran harus dievaluasi sebelum kesimpulan tentang efektivitas dibuat. Evaluasi juga perlu mempertimbangkan risiko dan konsekuensi penggunaan AI, bukan hanya kemudahan atau kecepatan yang ditawarkannya. Dengan demikian, pertanyaan riset tidak sebatas apakah AI dapat digunakan, tetapi dalam kondisi apa penggunaannya bermanfaat, bagi siapa, dan dengan batasan apa.
Namun, peluncuran pada 6 Oktober 2026 belum menjadi bukti bahwa semua penggunaan AI meningkatkan hasil belajar. Proyek-proyek dalam Living Laboratory masih berfungsi sebagai wadah pengembangan dan pengujian. Temuan dari setiap proyek nantinya perlu dinilai berdasarkan bukti yang dikumpulkan dalam konteks masing-masing.
Langkah Penn GSE memperlihatkan pergeseran dari penggunaan AI yang didorong tren menuju eksperimen yang lebih terukur, kolaboratif, dan berorientasi pada hasil pembelajaran. Bagi institusi pendidikan lain, pendekatan ini dapat menjadi pengingat bahwa keberhasilan adopsi AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kualitas desain pembelajaran, pelibatan manusia, dan ketelitian evaluasinya.
